Review Buku A Cup of Tea For Writer

2015-08-19 11.39.29

Selamat pagi pembaca. 😀

Sedikit curhat, tadinya tulisan ini akan aku pos di blogku tanggal 1 September 2015 tapi malah dianggurin sampai akhir bulan begini.

Sejujurnya, aku belum pernah mereview buku lho. Ini adalah pertama kalinya bagiku membuat review. Buku ini aku dapatkan dari Penerbit Stiletto Book karena memenangkan kuis #StilettoGift yang rutin diadakan oleh mereka. Review ini aku buat sebagai bentuk ucapan terimakasih kepada Stiletto Book yang sudah memberikan kesempatan padaku untuk membaca buku mereka dengan gratis. Siapa sih yang tidak senang kalau mendapat gratisan? Terimakasih @Stiletto_Book. Hehe.

A Cup of Tea for Writer berisi kisah-kisah inspiratif penyemangat hati dari para penulis perempuan (baik senior maupun pemula) yang terdiri dari dua puluh cerita dari dua puluh orang penulis dengan rincian: Triani Retno A. dan Herlina P. Dewi sebagai penyusun; Reda Gaudiamo, Ika Natassa, Ollie, dan Dian Kristiani sebagai penulis tamu; dan 14 dari 197 peserta lomba menulis A Cup of Tea for Writer yang terpilih menjadi kontributor.

A Cup of Tea adalah sebuah buku berseri yang diterbitkan oleh Stiletto Book. A Cup of Tea for Writer sendiri merupakan seri keempat yang terbit pada September 2012. Tiga buku sebelumnya yaitu “A Cup of Tea for Single Mom” (April 2012), “A Cup of Tea for Complicated Relationship” (Agustus 2011), dan “A Cup of Tea – Menggapai Mimpi” (Februari 2012). Karena buku ini terbit pada tahun 2012, sedangkan ini tahun 2015, kemudian aku memutuskan untuk mencari seri selanjutnya ke website Stiletto Book dan ketemu deh, judulnya “A Cup of Tea Cinta Buta” (30 Januari 2014).

Senangnya. Menulis membuat saya eksis dan mandiri. (hlm. 3)

Senangnya. Menulis membuat saya dapat ikut menopang keuangan keluarga. (hlm. 4)

Senangnya. Menulis membuat saya menjadi lebih berarti dan bermanfaat bagi orang lain. (hlm. 7)

“Senangnya Menulis” oleh Mbak Triani Retno A. mengawali kisah-kisah inspiratif penulis lainnya. Pertanyaan dari orang-orang mengenai apakah novelnya sudah ada yang difilmkan dan laku jutaan eksemplar seperti J.K Rowling membuatnya galau. Kegalauan itu pun sempat membuatnya malas menulis. Untungnya, hal itu tidak membuatnya berhenti menulis. Menurutnya, bila semua itu belum bisa diraih, bukan berarti tulisan-tulisannya tak bermakna dan bermanfaat. Lagipula, kebermanfaatan toh dapat dilihat dari banyak hal lain.

Kisah inspiratif yang kedua adalah “Sebab Impian Ayah Bukanlah Impianku” oleh Ririe Rengganis. Kisah inspiratif dari Mbak Ririe Rengganis ini membuat mataku berkaca-kaca. Sebab impiannya untuk menjadi penulis ditentang ayahnya sampai-sampai ayahnya enggan bicara padanya. Tapi, ia bertahan untuk tetap memperjuangkan impiannya hingga bisa membuat ayahnya bangga padanya dan menyadari bahwa impian seorang ayah bukanlah impian anaknya. Setiap anak punya dunianya sendiri yang tidak dapat dimasuki oleh orangtuanya. Apa yang membuat mataku berkaca-kaca justru karena Mbak Ririe Rengganis bisa sampai bertengkar dengan ayahnya karena perbedaan impian antara dirinya dengan ayahnya, sedangkan aku bahkan tidak sempat mengetahui apa impian ayahku terhadapku karena ayahku meninggal ketika aku kelas 2 SMP. Saat itu, kami belum sempat membahas mengenai masa depanku. Sedihnya. Hehe. Mbak Ririe Rengganis pernah membuat surat untuk Ayahnya yang berhasil mengubah sikap Ayahnya terhadap Mbak Ririe.

Kisah inspiratif ketiga yaitu “Tidak Akan Pernah Cukup” oleh Whianyu Sanko. Pengalamannya benar-benar penuh pelajaran. Apa yang dialaminya membuatnya belajar satu hal penting bahwa tak ada penulis sukses yang sombong. 😀

Dan masih ada 17 kisah inspiratif lainnya yang bisa menjadi penyemangat hati dan pelajaran untuk para pembaca. Ditentang orangtua, ditolak penerbit dan media massa, royalti minim, dipandang sebelah mata, karya diplagiat, ditipu penerbit, bahkan sampai diteror seorang penulis yang naskahnya ditolak tidak membuat mereka patah arang. Mereka terus berusaha untuk tetap menjaga pijar semangat agar mereka dapat terus melangkah di jalan ini.

Membaca buku ini akan sangat menginspirasi, menghangatkan hati, dan mampu menyalakan api semangat para pembaca, terutama bagi kalian yang punya impian menjadi penulis dan juga para penulis pemula yang membutuhkan suntikan semangat. Di setiap akhir cerita, kita akan disuguhkan kutipan-kutipan mengenai dunia penulisan, baik dari penulis itu sendiri maupun dari penulis yang mungkin adalah inspirator mereka dalam menulis seperti Pramoedya Ananta Toer,  Christopher Paolin, Seno Gumira Ajidarma, A.A Navis, Stephen King, dan lainnya. Melalui buku ini kita bisa belajar dari pengalaman mereka, mengetahui seperti apa perjuangan seorang penulis, jatuh bangun dan lika-liku perjalanan mereka dari nol sampai mereka benar-benar menjadi seorang penulis. Membaca buku ini membuat kita tersenyum, tertawa, dan juga menangis sekaligus.

Oh ya, ada bonus 10 tips menulis yang dibagikan oleh Mbak Reda Gaudiamo di halaman terakhir buku ini, lho. Mau tahu? Beli dong, atau pinjam teman juga boleh. 😀

KALIMAT-KALIMAT FAVORIT

… menulis rupanya dapat dijadikan katarsis dari persoalan yang dialami seseorang. Menulis dapat menjadi terapi jiwa. (hlm. 5)

Tulisan adalah rekam jejak terbaik bagi mereka yang kelak kita tinggalkan di dunia. (hlm. 15)

Hal paling mendasar yang bisa kita dapatkan dari menulis adalah bahwa menulis itu menyenangkan. Sangat menyenangkan. Dengan menulis kita bisa menciptakan sebuah dunia baru lalu melakukan apa saja di dunia itu. (hlm. 16)

Tak ada penulis sukses yang sombong. Kau tahu, rasa sombong selalu berharga mahal. Mahal sekali sampai kau tak ingin membayarnya. Lagi pula, apa pun yang kita miliki saat ini tak akan pernah cukup untuk merasa hebat dan sombong. (hlm. 24)

Mengidolakan J.K Rowling itu keren, tapi bermimpi mengalami keajaiban seperti yang beliau alami adalah impian yang terlalu tinggi. Lakukan segera yang kita bisa, yang lebih realistis, dan ada di depan mata kita. Itu jauh lebih keren. (hlm. 33)

Menulis bisa membawa kamu ke mana saja di dunia ini. (hlm. 37)

Hidup memang sebuah misteri, rahasia terbesar milik Tuhan. (hlm. 51)

Jadilah penulis yang kuat karena itu akan terlihat dalam tulisanmu. (hlm. 51)

Kalau kau nanti akhirnya menulis, tulis sesuatu yang jujur. Bikin orang lain ikut terlibat secara emosi dan dapat merasakan apa yang kau tulis karena tulisan itu seperti cermin. (hlm. 53)

Ketika kau tidak bisa mengucapkan sesuatu, tidak usah takut karena kau masih bisa menuliskannya. Lakukan sekarang dan kau akan merasa lega. (hlm. 56)

Menulislah dan kirimkan terus. Jangan terbebani oleh kata YA atau TIDAK. Percayalah, tulisanmu akan menemukan jodohnya sendiri. (hlm. 56)

Menulis itu belajar mencintai kehidupan dengan jujur. Tanpa pretensi apa pun. (hlm. 56)

Penulis harus menciptakan pintu, atau setidaknya jendela di setiap permukaan dinding tinggi agar orang-orang yang terperangkap di baliknya menyadari bahwa mereka tidak sendiri di dunia ini. (hlm. 62)

Tulisan itu rekam jejak. Sekali dipublikasikan, tak akan bisa kau tarik. Tulislah hal-hal berarti yang tak akan pernah kau sesali. (hlm. 80)

Proses membaca yang ideal pada akhirnya akan mengolah seluruh proses itu menjadi sebuah petualangan intelektual yang sangat bermanfaat. (hlm. 106)

It is so awesome that reading a book can make your mind travel to places you’ve never been before. (hlm. 131)

Sebagai penulis, yang harusnya dikejar atau dijadikan target bukan popularitas, tapi keterbacaan, yaitu banyak tidaknya orang yang baca dan suka buku kita, bukan kitanya terkenal atau nggak. (hlm. 132)

There’s no higher appreciation of your writing than people spending their money to read your writings. (hlm. 135)

Penulis yang nggak suka baca sama dengan vegetarian yang jadi model iklan produk daging. (hlm. 136)

Pada akhirnya, hidup adalah memlih dan memilah. (hlm. 146)

Sekali lagi, menulis tak ubahnya berjalan. Banyak hal tak terduga yang bisa dijumpai sepanjang kilometernya. (hlm. 146)

Belajarlah dari setiap peristiwa selama jantung masih berdenyut di dadamu… bukan di dada orang lain. (hlm. 158)

Jika kita terus digerus masa lalu dan ditikam rasa ngilu, hidup tidak akan mengarah ke mana-mana kecuali ke muara luka yang lain, kesakitan yang lain. Tidak ada jalan lagi kecuali terus melangkah. (hlm. 165)

Kata-kata adalah pedang paling tajam, paling menikam. (hlm. 166)

Sayangnya, ada beberapa typo:
1. menulis -seharusnya- penulis
2. sebab -seharusnya- Sebab
3. disana -seharusnya- di sana
4. .Yang -seharusnya- . Yang
5. mengkawatirkan -seharusnya- mengkhawatirkan
6. menyeterika -seharusnya- menyetrika
7. ,menggoda -seharusnya- , menggoda
8. akan akan -seharusnya- akan
9. merarasa -seharusnya- merasa
10. ,dan -seharusnya- , dan
11. .Saya -seharusnya- . Saya
12. .Menulis -seharusnya- . Menulis

Kemudian pada paragraf pertama di halaman 163 kurasa seharusnya menggunakan paragraf rata kanan kiri (justify), tapi malah menggunakan paragraf rata tengah (center).

Overall, aku suka buku ini, benar-benar menginspirasi. Covernya juga sangat eye catching.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. – Pramoedya Ananta Toer (hlm. 110)

Keterangan Buku:

Judul                       : A Cup of Tea For Writer
Penulis                    : Triani Retno A & Herlina P. Dewi, dkk
Desain Cover         : Ike Rosana & Felix Rubenta
Layout Isi               : Deeje
Penyunting            : Triani Retno A & Herlina P. Dewi
Proof Reader         : Tikah Kumala
Penerbit                 : Stiletto Book
Tanggal Terbit      : 1 September 2012
Jumlah Halaman : x+195 hal
ISBN                       : 978-602-7572-06-5

NOTE: Gaya review terinspirasi alias masih meniru milik Bu Luckty Giyan Sukarno 😀

Iklan

2 thoughts on “Review Buku A Cup of Tea For Writer

Jangan lupa tinggalkan jejakmu di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s