REVIEW Sing-Py: Single Happy

Single Happy“Ran, emang rencana kamu ke depan tuh apa? Mau balik lagi jadi orang kantoran?” “Nggak, Bu. Rania tuh mau bikin kos. Tapi, khusus untuk cewek jomblo. Rania pengin ajarin anak-anak gadis bertahan hidup di dunia keras. Pengin bikin Kos Jomblo biar Rania dan cewek-cewek kos nggak diganggu hidung belang.”

Terbentuk KOS JOMBLO yang dikomandani Rania, cewek yang sakit hati dengan cowok yang namanya Anto, si manja, pengangguran, dan nyebelin. Hubungan mereka hanya bertahan tiga tahun. Kos Jomblo, murah meriah dan nyaman, tapi syaratnya harus jomblo. Peminat kos pun menumpuk hingga Rania harus melakukan audisi. Terpilihlah sepuluh cewek dengan fisik, karakter, profesi, dan latar belakang yang berbeda. Semuanya memiliki alasan berbeda kenapa memilih Kos Jomblo.

Dari sinilah dimulai petualangan cinta-cintaan ala anak Kos Jomblo. Mulai cinta segitiga antara Hanna, Vanessa, dan Athalla, kekasih gelap si Kidung, Roro yang pingsan di pernikahan mantannya, sampai Hanna yang di PHP-in sama penulis playboy. Belum lagi, Tahlia yang pacaran sama playboy eh malah dapat adiknya, Gani si quiz hunter yang ternyata bisa jatuh cinta sama adik pemilik kos, Gillian si cewek SMA cantik yang digila-gilai para cowok abege, serta permasalahan cewek lainnya.

Intinya, semua permasalahan cewek terkumpul jadi satu di Kos Jomblo. Dan mereka menamakan diri sebagai SING-PY = Single Happy. “Buat apa dobel tapi nyakitin, kalo bisa single tapi bahagia”.

—–

“Pacaran itu nggak penting. Menghalangi cita-cita. Cowok itu pesaing. Lengah dikit, kita kalah.”

Sing-Py: Single Happy adalah novel comedy-romance yang bersetting di Semarang, menceritakan kehidupan ala anak-anak kos karya Dewi Dedew Rieka, penulis serial Anak Kos Dodol, Absolutely Kribo, dan Miss Matching.

Sing-Py: Single Happy dibuka dengan perkenalan dari para penghuni Kos Jomblo termasuk si ibu kos, Rania. Dari berbagai macam perbedaan diantara mereka, satu hal yang sama hanyalah mereka sama-sama jomblo. Meskipun ada juga yang jomblo modus. Iya modus, karena dia pura-pura jomblo demi bisa masuk di Kos Jomblo yang murmer (murah meriah) biar irit. Namanya Kidung, anak perantauan dari Lampung yang kuliah di Semarang. Dia punya pacar namanya Abimanyu yang kuliah di Semarang juga. Mereka berdua pacaran sejak SMA dan Abimanyu ini calon tunangannya. Ah, cuma calon doang kok, karena kemudian mereka putus. Hahahaha, kasihan Kidung. *ketawa jahat*.

Berbekal pengalaman pahit yang dialami Rania, Kos Jomblo punya visi dan misi yang berbeda dari kos-kosan pada umumnya. Rania punya tujuan mulia, nggak pengin ada jelmaan Rania-Rania yang lain. Dia ingin mendidik cewek-cewek supaya lebih waspada dalam menjaga diri, nggak gampang kemakan rayuan cowok, dirayu dengan bunga setengah layu aja klepek-klepek. Dulu, Rania dilamar sama Anto dengan cincin kawin emas bertahtakan berlian besar, nggak tahunya cincin itu milik emaknya Anto, yang punya justru nangis-nangis bingung nyariin. Dasar si Anto emang gila.

Kos Jomblo yang dikomandani Rania ini punya sederetan aturan yang super ribet. Saking ribetnya, satu bab penulis khususkan untuk menjelaskan aturan yang Rania buat. Mereka harus jomblo di segala aspek, bayar kos tiap bulan maksimal tanggal lima, tidak menerima tamu cowok, tidak ada yang namanya dijemput cowok atau malam mingguan. Tamu cewek hanya boleh sampai ruang tengah, dilarang merokok dan berisik, memutar musik hanya sampai pukul 21.00 dan jam malam pukul  21.00, yang paling aneh adalah penghuni kos tidak diperkenankan punya kunci pintu sendiri.  Kemudian, begitu mereka menikah atau punya pacar, mereka harus keluar dari Kos Jomblo. Kalau sudah masuk jam malam, Rania punya kebiasaan menunggui anak-anaknya pulang di teras. Sekalian mengabsen satu per satu. Kebayang gak sih gimana ribetnya peraturan Kos Jomblo?

Masalah mulai muncul ketika Zara yang tomboi dan seorang backpacker punya banyak teman cowok yang mengakibatkan Kos Jomblo sering didatangi cowok-cowok teman kampusnya. Kalau Rania sedang pergi, mereka ramai-ramai bikin tugas di teras. Keriuhan itu mengundang pandangan sirik penghuni kos seberang, kosnya Pak Susilo, mantan pejabat BUMN. Nggak hanya Pak Susilo yang sebal, anak-anak kosnya ikutan mengibarkan bendera perang. Kos milik Pak Susilo ini kos campuran, kos untuk laki-laki dan juga perempuan.

Dari empat cowok teman Zara, ada Athalla dari Jakarta yang ramah, ganteng lagi orangnya. Biasanya kan, cowok ganteng suka songong. Nah, Athalla ini dari spesies langka. Orangnya santai sekali. Hobinya backpackeran bareng Zara and the gang.

Gara-gara sering main di kos, Vanessa dan Hanna jadi akrab dengan geng Zara. Pas liburan, Zara backpackeran dengan teman teman kampusnya ke Karimun Jawa. Karena Hanna dan Vanessa memaksa ikut dan cowok-cowok teman Zara malah minta mereka ikut, akhirnya Zara merelakan mereka berdua untuk ikut meski sebenarnya Zara malas mengajak mereka. Nah, sepulang backpacker dari Karimun Jawa, Vanessa dan Hanna sering berantem merebutkan Athalla. Puncaknya, ketika Vanessa menceritakan pada Zara bahwa dia mengajak nonton Athalla di bioskop, Hanna yang mendengarnya langsung panas dan mereka berdua ribut. Mereka kepedean, mengira Athalla suka dengan mereka. Padahal, Athalla sukanya dengan Zara dan sudah nembak dia tiga kali tapi ditolak.

Lalu, ada Roro, jomblo trauma. Dia pernah ditinggal menikah, jadi nggak percaya sama yang namanya cowok. Suatu ketika, Roro yang ngakunya sudah move on mendapat undangan dari mantannya, Indra. Roro maksa untuk ditemani datang ke nikahan mantannya. Dia beli kebaya baru dengan harga berlipat-lipat dari bujet semula. Anak-anak cemas memandangi Roro ketika didandani Tahlia. Dia bahkan memaksa diberi bulu mata palsu yang maksimal lentiknya. Roro yang ditemani Vanessa dan Zara ke kondangan pernikahan mantannya itu berulangkali jadi perhatian. Gimana nggak? Penampilannya cetar kayak Mbak-mbak wedding singer. Eh, rupanya Roro belum bisa move on. Hatinya teriris melihat kedua sejoli itu di pelaminan dan di pesta pernikahan itu Roro pingsan. Memalukan banget, Roro!

Bicara mengenai kos, aku sih nggak pernah ngekos. Jadi, nggak tahu rasanya jadi anak kos. Sedikit yang kutahu dari memperhatikan kehidupan teman-temanku yang ngekos, tampaknya berat untuk dijalani. Harus mandiri, apa-apa dilakukan sendiri. Apalagi, bagi mereka yang notabene adalah anak mama, kalau ada tanggal merah atau libur lainnya, mata mereka berubah warna jadi hijau, mulutnya bicara soal pulang kampung mulu. 😀 Mereka kasihan, kalau pulang kuliah merasa lapar, harus cari makan dulu di luar. Aku mah kalau pulang merasakan lapar, ya tinggal ngambil saja di dapur. Tapi, karena jarak rumah ke kampus cukup jauh, jadi aku sering istirahat di kosan teman. Kalau lapar, ya cari makan di luar juga! Lah, apa bedanya? Gak ada! Eh, biar irit, aku mah bawa bekal ding. Lebih sehat! Ini merupakan salah satu wujud gerakan #BawaBekalMandiri. Kenapa malah curhat? Oke balik ke novel.

Membaca buku ini akan membuat kita tersenyum bahkan tertawa dengan berbagai masalah yang menimpa para penghuni Kos Jomblo. Bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari dan bahasa yang sedang ngetren. Kita yang seharusnya prihatin melihat nasib para penghuni kos yang hampir selalu sial dalam masalah percintaan justru akan tertawa karena kalimat-kalimat yang terlontar dari mereka begitu kocak. Mbak Dewew sukses membuatku senyum-senyum bahkan ketawa-ketawa sendiri. Apalagi kalimat ini:

“Gue sedang menikmati pizza ini hingga jilatan terakhir.” (Hlm. 80).

Apalah aku nih hanya serbuk bedak Viva di dunia penulisan. (Hlm. 83)

Aku mah apa atuh, hanya selingkuhan kamu. (Hlm.  83)

Aku mah apa atuh, cuma remahan rengginang di kaleng Khonghuan. (Hlm. 90)

Banyaknya karakter yang terlibat dalam novel ini tidak sampai membuatku bingung mengikuti alur cerita. Tapi, porsi untuk masing-masing karakter terasa nggak sama. Khususnya Nabilla, ia tidak mendapatkan porsi yang sama dengan karakter lain, dia cuma nimbrung sana nimbrung sini ketika teman-temannya sedang menghadapi masalah. Mungkin karena Nabilla yang jomblo syar’i, yang benar-benar tidak mau pacaran, dan sudah menegaskan bahwa dia hanya menginginkan ta’aruf, sehingga tidak ada kisah cinta ala-ala Nabilla di novel ini.

Kemunculan Rania juga hanya sebentar. Selalu saja ada alasan Rania nggak ada ketika terjadi peristiwa penting di Kos Jomblo atau terhadap penghuni Kos Jomblo. Kalau pun dia sedang ada di kosan, pasti sedang sibuk di kamar.

Contohnya, ketika Idul Adha tiba, Rania mengajak anak-anak untuk berangkat melaksanakan shalat Idul Adha. Anak-anak berjalan mengikuti Rania di belakangnya. Kidung yang mukanya ditekuk pun memancing perhatian anak-anak kos. Rupanya, dia diajak Abimanyu untuk ketemuan setelah shalat Idul Adha. Ketika sedang asyik membahas hal itu, tiba-tiba Rania nimbrung menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Lalu, Rania pergi lagi meninggalkan mereka. Rania ada urusan yang harus disegerakan.

Di lain waktu, ketika anak-anak kos pergi keluar, tinggal Roro dan Vanessa yang berada di kosan. Saat itu, Rania sedang mengurung diri di kamarnya. Sedang ada deadline naskah buku anak. Pada waktu yang sama, Vanessa sedang sibuk membangunkan Roro yang tertidur di kamar menggunakan toa milik Rania. Setelah itu, Roro cerita kalau dia sedang galau, karena dia mendapat undangan dari mantannya yang akan menikah. Jadi, Rania tidak tahu-menahu bahwa penghuni kosnya mengalami berbagai permasalahan cinta selama tinggal di kosnya. Kukira Rania akan punya peran penting dalam berjalannya cerita di novel ini. Tapi, aku keliru. Ternyata, cerita fokus terhadap permasalahan anak-anak Kos Jomblo. Yah, sebenarnya akunya aja sih yang kurang paham sama sinopsis. Kan, di sinopsisnya sudah digambarkan bahwa novel ini mencertakan petualangan cinta-cintaan ala penghuni Kos Jomblo bukan tentang Rania-nya. Hehe.

Ngomongin soal cover, covernya simple. Pembatas bukunya juga lucu: bentuk kepala beserta sanggul setinggi gunung yang ada di cover depan. Desain isinya bagus, meski beberapa peletakkan kutipan-kutipannya sedikit membuyarkan konsentrasi membaca.

Aku suka karakter Zara dan Gani. Keduanya mirip aku, apalagi Zara. Zara tomboi dan ngomongnya blakblakan, nggak peduli omongannya sepedas cabai atau nggak, dia akan mengungkapkan apa yang ada dipikirannya serta prinsipnya untuk single ituloh… Pokoknya, karakter Zara ini mirip aku banget deh. Kalau Gani, aku suka Gani karena dia quiz hunter, aku juga quiz hunter soalnya. 😀

Recommended banget buat kalian yang merasa menjadi jomblo bahagia. 😀

KESALAHAN PENULISAN

Sayangnya, masih banyak sekali kesalahan penulisan dalam novel ini terutama penggunaan tanda baca dan huruf kapital. Jadi, terkesan nggak rapi dan cukup mengganggu nih. Tapi, aku akan menyebutkan apa yang menurutku paling membingungkan saat dibaca saja.

1. Salah menyebutkan jumlah kamar di halaman 12.

2. Dialog yang sangat membingungkan antara Hanna dan Vanessa di halaman 38.

3. Salah menempatkan dialog antara Kidung dengan Vanessa.

Seharusya kalimat Kidung, “Jangan panggil-Aku-Dung, … ” dan kalimat Vanessa, “Tapi kamu cocok juga dipanggil Dudung. Tonjokanmu dahsyat.” berada di halaman 53 bukan 52. Karena nggak nyambung kalau dialog ini berada di halaman 52.

KALIMAT FAVORIT

Cewek jomblo itu harusnya mandiri dan enggak mudah goyah sama rayuan cowok. Sekotak-kotak gimanapun dadanya. (Hlm. 20)

Pacaran itu nggak penting. Menghalangi cita-cita. Cowok itu pesaing. Lengah dikit, kita kalah. (Hlm. 23)

Kemarin jambak-jambakan. Sekarang, kok peluk-pelukan. Begitulah jomblo yang rebutan gebetan. (Hlm. 44)

Perempuan itu emang gak jujur soal hati. (Hlm. 68)

Ajaibnya cewek itu ketika ditinggal begitu aja tapi masih cinta mati. (Hlm. 75)

Jadi jomblo itu nggak mengerikan, karena bebas merdeka, meski terhalang dompet tipis pas tanggal tua. (Hlm. 80)

Semandirinya seorang cewek tetep aja butuh yang namanya cowok. (Hlm. 100)

Kalo kamu lagi sedih, jangan khawatir sebab ada bahuku untuk bersandar. (Hlm. 124)

IDENTITAS BUKU:

Judul                         : Sing-Py: Single Happy
Penulis                      : Dedew (@dewirieka)
Penyunting              : Andri Agus Fabianto (@andi_NaSTAR)
Penata Letak           : Dwi
Pendesain Sampul : Deff Lesmawan
Penerbit                   : Loveable
Terbit                       : September 2015
ISBN                        : 978-692-72905-5-6

(Buntelan dari Penerbit Loveable @Loveableous dan @Nadia48Nafla)

Iklan

Jangan lupa tinggalkan jejakmu di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s