REVIEW Stolen Songbird (Negeri Troll yang Hilang)

Book - Stolen Songbird by Danielle L JensenApa troll merasakan hal yang sama dengan manusia? Apa troll mengenal kesedihan, kemarahan, atau kebahagiaan? Bisakah troll mencintai troll lain? Atau apakah batin mereka sedingin batu yang mengubur mereka di bawahnya?

Cécile de Troyes mengira masa depannya ada di panggung-panggung megah di Trianon. Ia yakin kariernya sebagai penyanyi bersuara merdu akan cemerlang begitu ia meninggalkan Goshawk’s Hollow. Namun, hal tak terduga menyergapnya, menyeretnya ke sebuah negeri yang selama ini hanya pernah didengarnya dari dongeng lama. Tak ada mimpi seburuk membuka mata dan menyadari bahwa ia diculik ke sebuah kota yang terkubur di bawah reruntuhan gunung. Kota yang dipenuhi oleh makhluk… troll.

Kaum troll mengira Cécile bisa menjadi salah satu kunci melenyapkan kutukan penyihir yang melingkupi Kota Trollus selama lima abad. Kutukan yang membuat mereka tak mampu keluar dari kungkungan Gunung Terlupakan. Kutukan yang membuatnya terikat dengan pangeran troll angkuh bernama Tristan. Ia pikir hidupnya lebih baik berakhir, sampai ketika ia mulai menyadari rahasia-rahasia terselubung yang ada di kota itu. Ia sadar, jika ia melibatkan diri lebih jauh dengan segala intrik kaum troll, semua tak akan pernah sama lagi. Namun, terkadang, harus ada yang melakukan hal yang tak terbayangkan.

Mampukah Cécile bertahan dan menguak rahasia negeri troll? Kau pikir kau sudah tahu tentang kaum troll? Tunggu sampai kau menyelesaikan petualangan ini.

—–

“Kekuatan melahirkan kekuatan, dan orang-orang yang kuat tidak akan menyerahkannya ke moralitas atau apa yang benar untuk waktu yang lama.” (hlm. 242-243)

Cecile de Troyes begitu bahagia karena dirinya akan segera meninggalkan pertanian di Gishawk’s Hollow dan pergi ke Trianon untuk menyanyi di panggung-panggung megah seperti Ibunya. Tapi kebahagiaan itu lenyap begitu saja ketika dirinya diculik oleh temannya Luc dalam perjalanan menuju rumahnya yang sedang mempersiapkan pesta perpisahan untuk dirinya. Luc menculik dan membawa Cecile ke sebuah kota di bawah reruntuhan Gunung Terlupakan. Kota itu adalah Kota Trollus, negerinya para troll. Luc akan menjual Cecile, menukarkannya dengan emas seberat bobot tubuhnya.

Lima ratus tahun yang lalu, seorang penyihir manusia bernama Anushka mematahkan gunung dan menjebak Trollus selamanya. Ia mengutuk Trollus dengan sihirnya, membuat bangsa troll tidak bisa keluar dari reruntuhan pegunungan itu.

“Tepat sebelum tengah hari, seluruh Trollus diperingatkan tentang bencana yang akan datang oleh gelegar guntur yang bergema. Ketika berton-ton batu yang tak terhitung banyaknya meluruhi lembang, puluhan ribu troll mengangkat tangan dan sihir untuk melindungi diri mereka, dan dengan melakukannya, menciptakan perisai kolektif yang melindungi kota saat batu itu menghalangi langit.” (Halaman 252)

Kemudian, sebuah ramalan yang disampaikan seorang Duchesse menyebutkan bahwa kutukan bangsa troll akan terpatahkan jika pangeran kegelapan dan putri terang dipertalikan di bawah sinar bulan. Ramalan itu disampaikan dalam bentuk syair.

“Mata biru dan rambut merah

Kunci dari gairah.

Suara bak malaikat dan tekad kukuh

Dan penyihir gelap akan bersimpuh.

….” (Halaman 258)

Lanjutannya baca sendiri ya. 😀

Ramalan itulah yang menyebabkan Cecile diculik dan dibawa ke Trollus. Cecile memiliki kriteria yang disebutkan dalam ramalan itu. Ia akan diikat/dipertalikan dengan Putra Raja Thibault, Pangeran Tristan.

”Kau akan menjadi Putri Trollus dan ibu dari anak-anaknya; dan dengan demikian, kau akan membebaskan kami semua.” (Halaman 40)

Memikirkan dirinya menikah dengan salah satu dari mereka. Ditiduri olehnya. Mengandung anak-anaknya. Cecile merasa dirinya baru saja diberitahu bahwa sisa hidupnya akan dilalui dalam mimpi buruk tanpa akhir. Baginya lebih baik mati ketimbang harus menikah dengan salah satu diantara mereka. Tapi, pernyataan seperti itu tidak akan ada manfaatnya. Itu hanya membuat mereka mengawasinya siang dan malam untuk memastikan dia tidak akan menyakiti diri sendiri.

Tapi, Pangeran Tristan bukanlah Troll seperti yang selama ini Cecile, atau bahkan kita pikirkan.

“Pangeran Tristan tinggi dan ramping. Matanya berwarna perak dengan kilau intelektualitas tajam. Pakaiannya rapi tanpa cela, mantel hitam dengan rompi dan kemeja linen yang halus dibawahnya. Dia juga memiliki wajah paling mulus dibandingakn pemuda mana pun yang pernah kulihat. Rambutnya hitam legam, tulang pipi dan rahangnya terpahat tegas, dan bibirnya penuh namun tanpa senyum. Kulit pucatnya terlalu sempurna, gerakannya terlalu luwes dan terkendali.” (Halaman 48)

Lantas, apakah kutukan itu berhasil dilenyapkan oleh pertalian antara Cecile dan Pangeran Tristan? Bagaimana kehidupan Cecile setelah pertalian itu? Mau tahu? Yuk beli dan baca bukunya.

—–

Sebelumya, aku merasa begitu bersyukur dan berterimakasih karena Kak @stefanie_sugia memilih aku sebagai salah satu pemenang Giveaway Stolen Songbird yang diadakan di blognya dan disponsori oleh Penerbit Fantasious selaku penerbit yang menerjemahkan novel ini. Awalnya, setelah aku membaca postingan giveaway beserta komentar-komentarnya, aku hampir saja mengurungkan niat untuk mengikuti giveaway tersebut. Karena sudah banyak orang yang berpartisipasi dalam giveaway dan alasan sebagian besar dari mereka ingin mendapatkan novel ini karena mereka sudah menjadikannya sebagai wishlist, sedangkan aku, jangankan menjadikannya sebagai wishlist, baca sinopsisnya saja belum pernah. Kemudian, aku memutuskan membaca dulu review-nya. Seketika, perasaan aku begitu menggebu-gebu dan ingin sekali mendapatkan novel ini. Dengan ketebalannya yang nyaris masuk kategori buku bantal, genrenya adalah fantasi dan temanya langka, yaitu tentang bangsa troll! Aku kemudian bergegas memenuhi persyaratan giveaway dan menuturkan alasan aku kenapa ingin membaca novel ini. Jujur saja, menurut aku itu adalah alasan yang memalukan. Tapi, begitulah keadaan aku, itu jawaban yang sejujur-jujurnya.

Kembali ke novel.

Seperti yang aku bilang sebelumnya, tema novel ini langka. Penulis cerdas dalam memilih tema yang jarang—setahu aku belum pernah—digunakan. Lebih tepatnya, karena buku yang aku baca jumlahnya baru sedikit sih. Selama ini, yang aku tahu fisik troll dan kehidupannya ya seperti yang digambarkan dalam film Harry Potter, The Lord of The Ring, The Hobbit, Hansel and Gretel: Witch Hunter. Tapi di sini, penulis menggambarkannya dengan sangat berbeda. Mereka bukan troll seperti yang film-film tersebut gambarkan. Meski ada yang buruk rupa, tapi aku rasa tidak seburuk yang digambarkan dalam film-film tersebut. Mereka juga hidup dengan sistem kerajaan. Masalah yang diangkat dan dijadikan konflik oleh penulis adalah perlakuan troll berdarah murni terhadap darah campuran. Troll berdarah murni menganggap anak-anak hasil pertalian troll-manusia adalah hal menjijikkan yang tak pantas mendapatkan apapun daripada perbudakan hina. Dari sini, muncul faksi kecil di dalam Trollus yang mendesak perlakuan lebih baik bagi para darah-campuran, bahkan kesetaraan.

Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang pertama dari kedua tokoh utama: Cecile dan Tristan. Tapi hampir keseluruhan cerita menggunakan sudut pandang Cecile dan beberapa bab saja yang menggunakan sudut pandang Tristan. Dengan dominasi sudut pandang Cecile, aku ikut merasakan keingintahuan Cecile atas rahasia apa yang ada di Trollus, bagaimana perasaannya terhadap Tristan, bagaimana rasa cemburunya melihat kedekatan Anais dengan Tristan. Aku larut dalam kondisi dan perasaan Cecile.

Novel ini termasuk dalam genre fantasy-romance dengan menonjolkan kisah percintaan Pangeran Tristan dan Cecile yang menurut aku terasa begitu mendalam. Aku sering merasa iba dengan keadaan Pangeran Tristan dengan posisinya sebagai putra raja. Dia mencintai Cecile, begitu pun sebaliknya. Tapi dia harus terus berpura-pura bahwa dirinya membenci Cecile agar rahasianya tidak terbongkar.

”Aku akan mengabaikanmu. Bersikap kejam terhadapmu. Dan kau harus mengikuti permainan itu. Bersikaplah sedih dan tak bahagia. Jangan pernah memberikan orang alasan untuk berpikir aku telah menunjukkan kebaikan barang sedikit pun, atau bahwa aku sudah bercerita kepadamu. Dan di atas semua itu, jangan biarkan siapa pun menduga bahwa aku peduli hidup dan matimu, terlepas dari kemungkinan pengaruhnya terhadapku.” – Tristan, Halaman 181.

”Aku berharap bukan seperti apa diriku. Aku berharap bukan seperti siapa diriku. Aku berharap kita bertemu dalam situasi yang berbeda, di suatu tempat yang sangat jauh, tempat tak ada sihir, politik, dan muslihat. Di mana segala hal di antara kita bisa jadi berbeda. Aku berharap aku adalah orang lain.” -Tristan, Halaman. 374

”Aku takut… aku takut mencintaimu, mengetahui bahwa suatu hari kau akan pergi dan meninggalkanku di sini.” – Tristan, Halaman 375.

Aku suka karakter Cecile dan Tristan. Kalau Cecile tipe orang yang hidup di masa sekarang, selalu melakukan sesuatu tanpa pikir panjang dan blakblakan mengungkapkan pikiran, jarang mempertimbangkan bagaimana ucapan dan keputusannya akan mempengaruhi masa depan. Tristan justru sebaliknya. Hampir setiap tindakan yang dia ambil atau keputusan yang dia buat dirancang untuk memengaruhi situasi bulan, tahun, bahkan puluhan tahun yang akan datang. Selain kedua tokoh utama, aku juga suka Marc, si kembar Victoria dan Vincent, serta Anais. Kalau Marc, aku sudah tertarik dengannya sejak pertama kali dia muncul di terowongan menemui Cecile yang hampir dimangsa sluag bersama si penculik bodoh, Luc. Dia bersikap baik dan membela Cecile dihadapan Raja Thibault. Dia sangat setia terhadap Tristan.

Aku tipe orang yang nggak peka dengan apa yang sebuah cover coba sampaikan kepada pembaca mengenai isi ceritanya. Dan aku baru paham setelah membaca penjelasan Tristan di halaman 79. Setelah itu, aku baru bisa menilai bahwa covernya pas, menggambarkan Trollus yang terkubur di bawah reruntuhan pegunungan dengan bola cahaya sihir yang menyinari kota. Mengingat ini novel terjemahan, bahasanya cukup ringan sehingga tidak menyulitkan pembaca memahami kalimatnya.

Satu hal yang sangat menjengkelkan adalah endingnya. Aku selesai membaca novel ini sampai hampir pukul setengah tiga pagi demi mengetahui endingnya. Tapi, aku dibuat kecewa. Tapi ya, endignya masuk akal juga sih karena ini novel trilogi. Itu strategi penulis supaya pembaca penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Recommended untuk yang suka novel fantasy dan romance.

KALIMAT FAVORIT

“Kecantikan bisa diciptakan, pengetahuan bisa diperoleh, tapi bakat tidak bisa dibeli atau diajarkan.” (hlm. 4)

“Tak ada yang taka bisa dicapai oleh sedikit kekuatan kehendak.” (hlm. 6)

“… terkadang keberuntungan menemukan kita di saat kita tidak begitu mengharapkannya.” (hlm. 9-10)

“Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata.” (hlm. 129)

“Landak menandak yang galak membuat sesak dengan bau apak yang menyeruak semerbak.” (hlm. 157)

“Seekor burung ditangan lebih berharga dibandingkan dua ekor yang terbang.” (hlm. 173)

“Keindahan seharusnya bagus dan baik, dan mendapati hal yang sebaliknya terasa seperti pengkhianatan kepercayaan. Pelanggaran atas hukum alam.” (hlm. 295)

IDENTITAS BUKU:

Judul                            : Stolen Songbird (Negeri Troll yang Hilang)
Penulis                        : Danielle L Jensen
Penerjemah              : Nadya Andwiani
Penyunting               : Meri Riansyah
Proofreading           : Lucy Riu
Pewajah Sampul   : Defi Lesmawan
Pewajah Isi              : Yhogi Yhordan
Penerbit                   : Fantasious
Terbit                        : Oktober 2014
Jumlah Halaman : IV + 496 halaman
ISBN                          : 978-602-0900-04-9

(Buntelan dari @stefanie_sugia dan @fantasiousID

Iklan

Jangan lupa tinggalkan jejakmu di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s