UAS Manajemen Pembiayaan Bank Syariah

NAMA: SAFITRI ARIYANTI

NPM: 141272910

S1 PBS B

Soal Penjelasan

1. Mengapa kita perlu mengidentifikasi kebutuhan nasabah ketika pengajuan pembiayaan ke Bank Syariah?
Jawaban: Alasan kita perlu mengidentifikikasikan kebutuhan nasabah adalah agar bank dapat menilai jenis pembiayaan serta akad apa yang cocok untuk direkomendasikan kepada calon debitur, apakah itu pembiayaan produktif, konsumtif atau investasi. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah bahwa sebelum suatu fasilitas pembiayaan  diberikan, maka bank harus merasa yakin bahwa pembiayaan  yang diberikan benar-benar akan kembali. Untuk itu, kita juga perlu melakukan analisa pembiayaan untuk menilai seberapa besar kemampuan dan kesediaan debitur dalam mengembalikan pembiayaan yang mereka pinjam dan membayar margin keuntungan dan bagi hasil sesuai dengan isi perjanjian pembiayaan. Berdasarkan penilaian itu, bank dapat memberikan penilaian terhadap kelayakan usaha nasabah,  menghitung berapa pembiayaan yang layak diberikan kepada nasabah serta menilai tinggi rendahnya resiko yang akan ditanggung. Dengan demikian, pihak bank dapat memutuskan apakah permintaan pembiayaan yang diajukan oleh nasabah akan ditolak, diteliti lebih lanjut atau diluluskan.
<

2. Apa saja hal yang perlu diperhatikan dalam menerima agunan kebendaan dan agunan non kebendaan?
Jawaban:
Agunan Kebendaan:
a. 
Keabsahan kepemilikan dan dokumen-dokumen kepemilikan.
b. Marketability agunan, antara lain terkait dengan lokasi agunan, kondisi fisik dan jenis agunan.
c.   Agunan yang dijaminkan tidak sedang dalam sengketa maupun gugatan dari pihak lain.
d. Memastikan peringkat jaminan yang diperoleh, sehingga memperkecil risiko dalam pelaksanaan eksekusi nantinya.
e. Kemudahan untuk dilaksanakan pengikatan.
f. Penutupan asuransi, mencakup kecukupan nilai agunan dan bonafiditas perusahaan asuransinya.

Agunan Non Kebendaan:
a.
Karakter dari pemberi jaminan, dalam hal corporate guarantee karakter dari pengurus/pemilik perusahaan.
b. Legalitas pemberi jaminan perorangan meliputi kecakapan dan kewenangan bertindak dalam menerbitkan jaminan perorangan.
c. Kemampuan material pemberi jaminan perorangan/perusahaan.
d. Diminta kepada pemberi jaminan untuk melepas hak istimewanya, yaitu hak istimewa yang dimiliki pemberi jaminan untuk meminta agar barang-barang nasabah yang dijamin dilelang terlebih dahulu sebelum yang bersangkutan memenuhi kewajibannya membayar jaminan. Dengan dilepaskannya hak istimewa dimaksud, maka dapat langsung menagih kepada pemberi jaminan apabila terjamin cidera janji tanpa harus melelang terlebih dahulu harta nasabah.
e. Harus mengetahui dan memastikan telah berapa kali penjamin menandatangani/ memberikan jaminan serupa. Hal ini utk mengetahui rasio harta kekayaan penjamin dibandingkan total hutang yg ikut dijamin yang bersangkutan.
f. Akta pengikatannya dibuat dengan akta notariil dengan mencantumkan nilai Rupiah yang dipertanggungkan.
g. Berkaitan dengan borgtocht/corporate guarantee dalam prakteknya hal tersebut sebenarnya merupakan “moral obligation” dan dalam pelaksanaannya sulit dieksekusi. Disamping itu tidak mudah untuk dapat mengetahui secara pasti aset penjamin. Karenanya hendaknya memeriksa secara benar dan teliti mengenai kemampuan finansiil penjamin, kewenangannya serta keabsahan akta jaminan yg diterbitkan.

Soal Analisa

       Anda baru saja bergabung dengan Bank Maju Syariah. Setelah 2 bulan, tepatnya di awal Juni 2016, Anda baru saja menerima satu berkas lengkap permohonan pembiayaan berikut laporan survey dari salah seorang di bagian support pembiayaan Bank Maju Syariah.

     Calon Debitur Anda adalah Bapak Yanto (40 tahun), seorang Karyawan Swasta di salah satu perusahaan di Lampung Tengah. Istri pak Yanto adalah Ibu Anggraini, pemilik Toko Baju “Karunia” yang kebetulan berlokasi di dekat kantor Pak Yanto. Pak Yanto sudah bekerja 15 tahun dan akan pensiun di usia 55 tahun atau 15 tahun lagi. Setelah pensiun, rencananya pak Yanto akan berkosentrasi di pengembangan usaha Toko Baju “Karunia” dan membuka satu cabang lagi di salah satu lokasi yang cukup ramai dengan perkantoran.

Data usaha dan hasil interview

  • Penghasilan Bapak Yanto sebesar Rp 2.000.000/ bulan. Untuk kebutuhan sehari –hari sudah terpenuhi dari penghasilan Bapak Yanto.
  • Bapak Yanto memiliki Deposito di Bank Maju Syariah sebesar Rp 50.000.000. Uang tersebut di depositokan dalam jangka waktu 5 tahun.
  • Omzet penjualan atas usaha Ibu Anggraini Rp 500.000/ hari.
  • Ibu Anggraini hanya berjualan dari hari senin – sabtu. Pada hari minggu, beliau libur.
  • Gaji karyawan @700.000/ bulan. Dengan jumlah 2 orang karyawan.
  • Pengeluaran lain :
    1. Sewa tempat usaha Rp 12.000.000/tahun
    2. Listrik Rp 500.000/bulan
    3. Transportasi Rp 300.000/bulan
    4. Telepon/pulsa Rp 200.000/bulan
  • Tagihan cicilan motor di Bank Aman sebesar Rp500.000/bulan
  • Harta yang dimiliki (salah satunya akan di agunkan) :
    1. Bapak Yanto memiliki Mobil baru tipe sedan keluaran china yang digunakan untuk keperluan pribadi dengan taksiran harga pasar adalah Rp 150.000.000
    2. Ibu Anggraini memiliki sebidang tanah berukuran 2500M2 berlokasi di persawahan Lampung Selatan. Harga pasar adalah 400.000/m2.
  • Bapak Yanto bermaksud untuk membeli Rumah di Kota Metro, senilai Rp 130.000.000. Oleh karena itu, beliau mengajukan pembiayaan di Bank Maju Syariah.

Tugas Anda

1. Jenis pembiayaan dengan akad apakah yang Anda rekomendasikan bagi debitur? Jelaskan alasannya, termasuk keunggulan akad tersebut dibandingkan dengan kredit di Bank Konvensional !
Jawaban: Jenis pembiayaan  yang akan saya rekomendasikan kepada calon debitur adalah Pembiayaan Konsumtif dengan produk KPR (Kredit Pemilikan Rumah) Syariah menggunakan akad Murabahah dengan alasan karena Bapak Yanto ingin membeli rumah tentu KPR Syariah adalah pilihan yang tepat untuk beliau. KPR Syariah sendiri adalah Pembiayaan Kepemilikan Rumah kepada perorangan untuk memenuhi sebagian atau keseluruhan kebutuhan akan rumah (tempat tinggal) dengan mengunakan prinsip jual beli dimana pembayarannya secara angsuran dengan jumlah angsuran yang telah ditetapkan di muka dan dibayar setiap bulan. Harga jualnya sudah ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati antara bank syariah dan pembeli. Kelebihan akad yang digunakan dalam pembiayaan ini adalah harga jual rumah ditetapkan di awal ketika nasabah menandatangani perjanjian pembiayaan jual beli rumah, dengan angsuran tetap hingga jatuh tempo pembiayaan. Dengan adanya kepastian jumlah angsuran bulanan yang harus dibayar sampai masa angsuran selesai, nasabah tidak akan dipusingkan dengan masalah naik/turunnya angsuran ketika suku bunga bergejolak. Nasabah  juga diuntungkan ketika ingin melunasi angsuran sebelum masa kontrak berakhir, karena bank syariah tidak akan mengenakan pinalti. Bank syariah tidak memberlakukan sistem pinalti karena harga KPR sudah ditetapkan sejak awal.

2. Berikanlah penilaian kelayakan usaha calon debitur dan menganalisa resiko apa saja yang dihadapi sehubungan dengan pembiayaan ini.
Jawaban: Untuk dapat menilai kelayakan usaha calon debitur maka kita perlu mengetahui bagaimana kondisi keuangan calon debitur untuk mengetahui kemampuan usaha calon debitur dalam menghasilkan keuntungan serta bagaimana posisi perusahaan di industri yang bersangkutan. Dalam industri toko pakaian yang terletak di wilayah perkantoran, tentu saja usaha ini akan memiliki resiko rendah dari segi kekuatan pembeli, namun berisiko tinggi dari segi subtitusi produk karena banyak sekali produk pengganti di pasaran. Dari segi kekuatan supplier, usaha ini berisiko rendah karena ada banyak sekali supplier yang bisa saling menggantikan namun berisiko tinggi dari segi persaingan karena pasar yang tumbuh dan persaingin tinggi serta sangat mudah untuk masuk ke dalam indutri ini.
Adapun rincian data dari usaha calon debitur adalah sebagai berikut:

– Pendapatan: Rp. 2.000.000/bulan, akan tetapi hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari sehingga tidak dapat dipertimbangkan dalam penilaian ini.
– Deposito di Bank Maju Syariah Rp. 50.000.000; jangka waktu 5 tahun.
– Omzet penjualan : Rp 500.000/hari.
– Berjualan dari hari senin – sabtu = 26 hari dalam sebulan
– Omzet sebulan = Rp. 500.000 x 26 = Rp. 13.000.000Pengeluaran usaha:
– Gaji karyawan : @700.000 x 2 orang = Rp. 1.400.000/bulan
– Sewa tempat usaha Rp 12.000.000/tahun = Rp. 12.000.000/12 = Rp. 1.000.000/bulan
– Listrik : Rp 500.000/bulan
– Transportasi : Rp 300.000/bulan
– Telepon/pulsa Rp 200.000/bulan

Pengeluaran Non Usaha:
– Cicilan Motor di Bank Aman Rp. 500.000/bulan.

Total Pengeluaran: Rp. 3.900.000/bulan.

Laba : Omzet – Pengeluaran = Rp. 13.000.000 – Rp. 3.900.000 = Rp. 9.100.000

Adapun rasio utang calon debitur adalah : (Rp. 3.900.000/Rp. 9.100.000) x 100% = 26%

Karena dalam data interview tidak dicantumkan darimana modal produksi didapat, maka penilaian didapat dengan melihat jumlah pendapatan yang diperoleh atas pengeluaran yang ada, sehingga usaha calon debitur layak dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan terkait pembiayaan yang akan diberikan karena laba yang dihasilkan melebihi setengah dari beban pengeluaran yang ditanggung calon debitur, bahkan dua kali lipat. Dengan melihat rasio utang calon nasabah yang tidak melebihi batas 30% maka kemungkinan persetujuan atas pembiayaan yang diajukan oleh Bapak Yanto pun memiliki kemungkinan yang besar. Adapun resiko yang akan dihadapi sehubungan dengan pembiayaan ini adalah calon debitur tidak dapat mengambil pembiayaan jangka pendek karena jumlah angsuran akan melebihi jumlah pendapatan bersih yang ia peroleh, apabila calon debitur mengambil pembiayaan jangka menengah maka resiko pembiayaan bermasalah akan terjadi di kemudian hari karena calon debitur memiliki pengeluaran yang terlalu besar.

3. Jika debitur mengagunkan Mobilnya, dan berharap mendapatkan limit semaksimal mungkin. Jadi, berapakah nilai limit pembiayaan tersebut? (Dengan catatan kebijakan di Bank Anda menggunakan bobot penilaian terendah untuk menilai agunan)
Jawaban: Jika nasabah mengagunkan Mobilnya, dimana mobil tersebut adalah mobil baru tipe sedan keluaran China yang digunakan untuk keperluan pribadi dengan taksiran harga pasar adalah Rp 150.000.000, maka pemobotan nilai likuidasi agunan tersebut adalah:
Baru : 80% x Rp. 150.000.000 = Rp. 120.000.000
Sedan : 80% x Rp. 150.000.000 = Rp. 120.000.000
Cina : 30% x Rp. 150.000.000 = Rp. 45.000.000
Pribadi : 80% x Rp. 150.000.000 = Rp. 120.000.000

Dikarenakan bank menggunakan bobot penilaian terendah untuk menilai agunan maka nilai agunan Bapak Yanto sebesar Rp. 45.000.0000 sehingga nilai limit pembiayaan Bapak Yanto yang dapat disetujui sebesar Rp. 45.000.000. Dengan demikian, ini berarti rumah yang akan dibeli Bapak Yanto yang memiliki nilai Rp. 130.000.000 tidak setara dengan nilai limit pembiayaan yang dapat disetujui Bank. Yang dapat diartikan pula bahwa pembiayaan yang diajukan oleh Bapak Yanto memiliki kemungkinan akan ditolak. Jika Bapak Yanto mau menambah agunan atau mengganti dengan yang nilainya setara dengan jumlah pembiayaan yang diajukan, maka pembiayaan tersebut akan memiliki kemungkinan untuk dapat diproses ulang dan dapat disetujui. Namun jika Bapak Yanto tidak menyetujui rekomendasi dari Bank, maka proses pembiayaan berhenti di sini, pengajuan pembiayaan ditolak.

Jika Bapak Yanto setuju untuk menambah/mengganti agunan, Bapak Yanto dapat mengagunkan tanah milik Istrinya saja, mobilnya tidak perlu.  Pengagunan ini harus didasarkan atas persetujuan istri Bapak Yanto, jika tidak ada persetujuan dari pihak istri maka pembiayaan pun tidak akan dapat diproses. Jika ada persetujuan dari Istri maka Bapak Yanto dapat mengajukan pembiayaan ulang. Adapun spesifikasi tanah milik Ibu Anggraini adalah tanah yang berlokasi dipersawahan dengan ukuran 2500M2, memiliki nilai pasar Rp. 400.000/m2. Maka nilai pasar atas tanah yang dimiliki Ibu Anggraini  adalah Rp. 400.000 x 2500M2 = Rp. 1.000.000.000.
Maka pembobotan nilai tanah tersebut adalah:
Milik Istri: 70% x Rp. 1.000.000.000 = Rp. 700.000.000
Persawahan: 40% x Rp. 1.000.000.000 = Rp. 400.000.000
Tanah sawah: 30% Rp. 1.000.000.000 = Rp. 300.000.000

Dikarenakan bank menggunakan bobot penilaian terendah untuk menilai agunan maka nilai agunan Bapak Yanto sebesar Rp. 300.000.0000 sehingga nilai limit pembiayaan Bapak Yanto yang dapat disetujui sebesar Rp. 300.000.000. Namun karena rumah yang akan dibeli senilai Rp. 130.000.000 maka pembiayaan yang akan diberikan senilai dengan yang diajukan oleh Bapak Yanto.

4. Jika margin yang diharapkan oleh pihak Bank Maju Syariah adalah sebesar Rp 20.000.000. Maka, berapakah total angsuran yang harus dibayarkan oleh debitur jika memilih jangka waktu 12 bulan, 18 bulan dan 24 bulan?
Jawaban: Jika margin yang diharapkan oleh pihak Bank Maju Syariah adalah sebesar Rp Rp. 20.000.000
Maka, harga jual = harga awal + margin keuntungan
= Rp. 130.000.00 + Rp. 20.000.000
= Rp. 150.000.000

Total Angsuran:
Jangka waktu 12 bulan = Harga jual/12 = Rp. 150.000.000/12 = Rp. 12.500.000/bulan
Jangka waktu 18 bulan = Harga jual/18 = Rp. 150.000.000/12 = Rp. 8.333.333/bulan
Jangka Waktu 24 bulan = Harga jual/24 = Rp. 150.000.000/12 = Rp. 6.250.000/bulan

5. Dari ketiga pilihan jangka waktu tersebut, yang manakah yang Anda rekomendasikan untuk debitur? Jelaskan alasannya?
Jawaban: Saya merekomendasikan jangka waktu angsuran selama 24 bulan dengan alasan bahwa pendapatan bersih yang didapat adalah Rp. 9.100.000 sehingga angsuran yang dibayarkan tidak akan memberatkan pihak debitur dengan sisa yang dirasa cukup untuk dapat mengembangkan usaha si debitur dan untuk kebutuhan lainnya.

Iklan

Jangan lupa tinggalkan jejakmu di sini :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s